Naskah ini versi lama yang diterbitkan pada 2026-09-20. Baca versi terbaru.

BAB 8. Keanekaragaman Hayati dalam Agroekosistem

Penulis

Sinopsis

Keanekaragaman hayati dalam agroekosistem mencakup variasi kehidupan pada tingkat gen, spesies, komunitas, habitat, hingga lanskap yang dipengaruhi oleh sistem budidaya dan aktivitas manusia. Materi membedakan keanekaragaman taksonomik dan keanekaragaman fungsional serta menghubungkannya dengan penyediaan jasa ekosistem dan ketahanan pertanian. Predator, parasitoid, penyerbuk, mikroorganisme tanah, burung, gulma nonkompetitif, dan vegetasi tepi memiliki fungsi ekologis yang berbeda dalam mempertahankan proses ekosistem. Keanekaragaman fungsional menekankan bahwa jumlah spesies saja tidak cukup untuk menggambarkan kualitas agroekosistem karena spesies dapat memiliki fungsi yang saling melengkapi maupun fungsi serupa yang memberikan redundansi ekologis. Pengukuran biodiversitas diperkenalkan melalui indikator dan indeks keanekaragaman serangga yang kemudian dikaitkan dengan kondisi habitat serta praktik pengelolaan. Interpretasi data tidak berhenti pada nilai indeks, tetapi mempertimbangkan komposisi komunitas, guild, kondisi habitat, dan fungsi ekologis. Pendekatan tersebut menjadikan biodiversitas sebagai dasar diagnosis dan pengambilan keputusan untuk membangun agroekosistem yang produktif, stabil, dan memiliki kapasitas pemulihan serta adaptasi terhadap gangguan.

Diterbitkan

September 13, 2026 — Diperbaharui pada September 20, 2026

Versi